"Biasanya kalau habis ibadah (merasa) kamilah orang baik. Kalau habis ngaji (merasa) kamilah orang bodoh". Kyai Ahmad Mukhlis Fadhil 

Al Kindi (3) Pemikiran Al Kindi dalam Filsafat: Tuhan dan Manusia

Bagi al-Kindi upaya mencari dan mengamalkan kebenaran atau berfilsafat merupakan aktivitas manusia yang mulia. Selain didasarkan dengan wahyu, filsafatnya terkait keesaan Tuhan juga didasarkan pada proposisi filosofi. Ia adalah filosof islam pertama yang menggagas bukti rasional filosofis tentang Tuhan, dengan berupaya menunjukkan eksistensi tuhan melalui teori kebaruan (dalil al-Hudus).[1] Menurut al- Kindi seperti yang dinukil oleh Zaprulkhan dalam bukunya menyebutkan bahwa seberapapun luasnya alam semesta maka ia adalah terbatas dan segala yang terbatas tidak mungkin tidak mempunyai awal yang tidak terbatas.[2] Seluas apapun alam semesta ketika diruntut sampai ke belakang pasti ketemu pada titik temporal tertentu dan tidak mungkin surut ke belakang dan tak terhingga (tasalsul).

Penentuan unsur-unsur sebuah materi fisik merupakan tahapan awal metafisika. Semua benda yang dapat ditangkap dengan indera merupakan juzi’yah (partikular) dari wujud benda.[3] Baginya, hal yang terpenting dibicarakan dalam filsafat adalah hakikat yang ada di dalam benda bukan aspek partikular benda-benda tersebut. Al-Kindi menegaskan bahwa tiap benda mengandung dua hakikat; hakikat juziyah atau yang disebut dengan aniyah dan hakikat kulliyah atau yang disebut dengan mahiyah.[4] Seperti yang telah diketahui, pembagian tersebut sedikit banyak terpengaruh oleh filsafat Aristoteles yang membagi benda dalam substansi dan aksidensi.[5]

Dalam pandangan al-Kindi, tuhan tidak memiliki hakikat, baik hakikat aniyah maupun mahiyah, tuhan tidak seperti benda yang mempunyai fisik yang dapat ditangkap oleh indera, tuhan juga tidak tersusun dari materi dan bentuk.[6] Karena tuhan bukan merupakan hakikat mahiyah, berarti tuhan juga bukan merupakan genus atau spesies, tuhan hanya satu tidak ada satupun yang mampu menyerupainya.[7] Tuhan adalah al-Haqq al-Awwal dan al-Haqq al-Wahid. Dalam hal ini, ia juga menolak pendapat yang mengaggap sifat-sifat tuhan berdiri sendiri, tetapi sifat-sifatnya tak terpisahkan dengan zat-Nya. Karena keesaan tuhan haruslah mutlak (absolute) bukan metaforis yang berlaku pada obyek-obyek yang dapat ditangkap indera.

Hukum-hukum alam yang berlaku dan berjalan secara teratur, tidak mungkin berjalan seperti yang terlihat tanpa ada yang mengendalikannya. Wujud yang mengendalikan keteraturan ini pastilah wujud yang maha dan tidak mungkin sama dengan yang dikendalikan. Jika alam dan hukum-hukum yang meliputi adalah hal yang baru, maka pengendali tidaklah baru. Jika Jika alam dan hukum-hukum yang meliputi adalah hasil ciptaan, maka pengendali tidaklah diciptakan. Sebab apabila sama antara pengendali dan yang dikendalikan maka akan terjadi ketidakteraturan.[8]

Membahas tentang sifat Tuhan, al-Kindi menyebutkan bahwa sifat-Nya azali yakni tidak berawal dan tidak berakhir. Sifat azali juga berarti zat dalam wujudnya tidak tergantung pada sebab.[9]Sifat –Nya juga pasti berbeda dengan sifat jism, karena jism pasti ada kesudahannya, bergantung pada zaman, tempat dan arah, maka hal yang demikian tidaklah kekal (azali). Sebagai contoh, Allah tidak bergerak, sebab apabila dikatakan bergerak berarti ia membutuhkan perubahan dan pertukaran arah serta ruang dan waktu, padahal Allah tidak perlu ruang dan waktu.

Terlihat jelas bahwa argumentasi kosmologis sangat mendominasi pemikiran al-Kindi dalam mejelaskan ketuhanan, dengan menjadikan Allah sebagai penyebab segala kebenaran. Sebab dari segala sebab merujuk kepada Allah, karena hanya ada satu. Segala keteraturan yang ada di alam tanpa terkecuali karena dasar sebab Zat yang satu. Dari sini nampak terlihat bahwa konsep sentral dari filsafat al-Kindi adalah tentang keesaan. Selain itu, aspek penting dari filsafatnya adalah membuktikan satu yang benar yang menjadi penyebab dari segala kebenara dan mendiskusikan kebenarannya.[10]

Bersambung….

[1] Shofiyullah Muzammil, Mempertimbangkan kembali Konsep tentang Tuhan, Manusia, dan Aql dalam Filsafat al-Kindi dan Seyyed Hossein Nasr, Jurnal Tajdid, 2018, Vol.17, No.1, H.6

[2] Zaprulkhan, Filsafat Islam: Sebuah Kajian Tematik (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), H.26

[3] Shofiyullah Muzammil, Mempertimbangkan kembali Konsep tentang Tuhan, Manusia,dan Aql dalam Filsafat al-Kindi dan Seyyed Hossein Nasr, H.7

[4] Hasan Basri, Filsafat Islam (Jakarta: Direktorat JenderalPendidikan Islam Kementrian Agama Republik Indonesia, 2013), H.35

[5] Substansi adalah bahan yang tetap, sedangkan aksidensi adalah aspek yang mungkin berubah dari tiap benda.

[6] Shofiyullah Muzammil, Mempertimbangkan kembali Konsep tentang Tuhan, Manusia, dan Aql dalam Filsafat al-Kindi danSeyyed Hossein Nasr, H.7

[7] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: BulanBintang, 1973), Cet.I, H.15

[8] Shofiyullah Muzammil, Mempertimbangkan kembali Konsep tentang Tuhan, Manusia, dan Aql dalam Filsafat al-Kindi dan Seyyed Hossein Nasr, H.8

[9] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Cet.I, H.16

[10] Sayyed Hossein Nasr dan Oliver Leamen, Ensiklopedia Tematis Filsafat Islam (ed),

H.210

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *