"Biasanya kalau habis ibadah (merasa) kamilah orang baik. Kalau habis ngaji (merasa) kamilah orang bodoh". Kyai Ahmad Mukhlis Fadhil 

Al Kindi (4) Pemikiran Al Kindi dalam Filsafat: Akal dan Wahyu

Al-Kindi menjelaskan bahwa akal merupakan daya pikir yang dihasilkan oleh jiwa. Oleh karena itu akal dan jiwa merupakan dua hal yang berbeda. Akal disini adalah akal murni (intellect par excellence), yang terpisah keadaannya dari jiwa yang selalu bertindak yang mana tindakannya tidak bisa dicapai dengan perasaan. Sedangkan jiwa sendiri terdiri atas tiga tingkatan, yaitu akal yang masih bersifat potensial (al-quwwah), akal yang sudah keluar dari potensial menjadi aktual (al-Fiil) dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas (al-Aql al-Tsani). Akal potensial tidak akan pernah menjadi aktual selama tidak ada kekuatan dari luar yang menggerakkannya, yang mempunyai wujud tersendiri diluar jiwa manusia.[1] Akal tersebut adalah akal yang selamanya aktualis (al-Aql al-Ladzi bi al-Fiil daiman), dan hal tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut;

  1. Ia merupakan akal pertama;
  2. Ia selamanya dalam aktualitas;
  3. Ia bukan merupakan spesies dan genus; dan
  4. Ia membuat akal potensial menjadi aktual berfikir

Dalam keterbatasan akal manusia untuk mengakses ilmu pengetahuan, oleh karena itu Allah memberi bantuan petunjuk dengan menurunkan wahyu kepada para utusannya. Ada wahyu yang formal atau sudah dibukukan dan wahyu non formal tergantung kedekatan kita dengan Allah, hal ini yang biasanya disebut dengan ilham atau intuisi. Disamping pembagian tingkatan daya berfikir, al-Kindi juga menyebutkan kemampuan lain dari jiwa yaitu tentang cara mendapatkan pengetahuan manusia (epistimologi). Menurutnya, pengetahuan dibagi menjadi dua; pertama pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera (partikular) dan kedua adalah pengetahuan yang diperoleh melalui akal (universal). Pengetahuan yang dapat diketahui oleh akal ini merupukan pengetahuan hakikat-hakikat dan hanya diperoleh kalau manusia mampu melepaskan sifat kebinatangannya (hawa nafsu).

Kalau roh telah mampu meninggalkan keinginan-keinginan badan, bersih dari segala noda kebendaan, dan senantiasa berfikir tentang hakikat-hakikat wujud, roh akan menjadi suci. Dalam keadaan ini ia akan mampu menangkap ilmu-ilmu yang memancar dari tuhan. Tetapi apabila dia kotor, ia tidak dapat menerima pengetahuan pengetahuan yang dipancarkan oleh cahaya yang dipancarkan oleh tuhan.[2]

Abu Rayyan mengatakan bahwa dalam persoalan akal al-Kindi nyaris mengutip pendapatnya Aristoteles.[3] Dengan ini, al-Kindi tidak banyak melakukan pembahasan mendalam tentang akal, namun apa yang dilakukan oleh al-Kindi ini telah membuka jalan bagi filosof musli setelahnya untuk mengkaji lebih mendalam.

Konklusi

Al-Kindi merupakan filosof Islam pertama yang menggagas pemikiran Islam dengan berdasar ayat-ayat al-Quran. Diantara hasil pemikirannya tersebut terkait hakikat kebaharuan alam, hakikat tuhan dan manusia serta yang berkaitan dengan akal  dan wahyu Allah. Alam ini baru karena menurutnya segala sesuatu yang yang di dunia ini terbatas, dan apa yang terbatas pasti akan ada ujung yang tak terbatas. Yang tak terbatas itu yang disebut dengan pencipta. Terkait tuhan, ia tidak berhakikat, tidak tersusun oleh materi baik aniyah maupun mahiyah. Maka dari itu jelas bahwa yang mencipta berbeda dengan yang dicipta. Selanjutnya, terkait dengan akal dan wahyu Allah, wahyu digunakan sebagai jembatan alternatif oleh akal untuk mengakses ilmu Allah yang sangat luas.

Penulis: Muhammad Hirzy Haikal Fasha, Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Catatan Kaki:

[1] Shofiyullah Muzammil, Mempertimbangkan kembali Konsep tentang Tuhan, Manusia, dan Aql dalam Filsafat al-Kindi dan Seyyed Hossein Nasr, H.15

[2] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Cet.I, H.11

[3]Muhammad Ali Abu Royyan, al-Falsafat al-Islamiyyat, (Matbaah al-Iskandariyah: Syakhsyiyatuha wa Madzahibuha, t.t), H.345

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *