"Biasanya kalau habis ibadah (merasa) kamilah orang baik. Kalau habis ngaji (merasa) kamilah orang bodoh". Kyai Ahmad Mukhlis Fadhil 

Al Kindi (1): Pendahuluan dan Biografi Al Kindi

Filsafat Islam lebih dahulu berkembang di wilayah Islam bagian timur, yaitu pada empat wilayah diantaranya Mesir, Syam, Irak dan Persia. Keempat wilayah tersebut telah berabad-abad mengalami proses Helenisasi sebelum Islam datang. Setelah Bani Abbasiyah menjadikan Baghdad sebagai pusat pemerintahan, dan memindahkan pusat kebudayaan Islam dari Kufah dan Basrah, sejak saat itu Baghdad menjadi pusat kegiatan ilmu, filsafat dan peradaban. Falsafat Islam mulai muncul saat gerakan penerjemahan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab yang dikomando oleh khalifah saat itu, al-Makmun. Dari gerakan tersebut, banyak terjadi interaksi dialog antar tokoh-tokoh ilmuan Muslim dengan ilmuan non Muslim yang banyak berasal dari Suriah, Persia Irak dan negara negara tetangga Baghdad. Diantara tokoh Islam yang mendalami filsafat dari wilayah Islam Timur adalah al-Kindi, al-Farabi, ar-Razi dan Ibnu Sina.

Biografi Al Kindi

Al-Kindi mempunyai nama lengkap Abdul Yusuf Yaqub bin Ishaq bin ash- Shahbah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin al-Asy’ats bin Qais al-Kindi, dilahirkan di Kufah pada tahun 185 H/ 801 M dan menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 252 H/865 M. Ada juga yang mengatakan tahun 180 H/796 M sampai 260 H/873 M.[1] Ia dikenal dengan sebutan al-Kindi karena dinisbatkan kepada nama sukunya yakni Kindah, yang merupakan salah satu suku terpandang di masyarakat Arab yang bermukim di Arab bagian Selatan (Yaman dan Hijaz).

Kindah juga merupakan bagian dari kabilah Kahlan, satu dari dua kabilah besar dari keturunan Arab Aribah.[2] Leluhur al-Kindi yang pertama kali memeluk Islam adalah al-Asy’ats bin Qais, sekaligus memimpin rombongan suku Kindah saat menghadap Rasulullah Saw.[3] Ia juga merupakan sahabat yang pertama datang ke Kufah dan tercatat beberapa kali mengikuti peperangan dalam Islam, salah satunya peperangan melawan Persia di Iraq bersama Saad bin Abi Waqqash, selain itu ia juga sebagai pembawa panji kabilah Kindah dari pasukan Ali bin Abi Thalib saat perang Shiffin, dan juga turut berperang dalam barisan Ali bin Abi Thalib saat melawan kaum   Khawarij di Nahrawan. Salah satu anak dari al-Asy’ats yaitu Muhammad pernah diangkat sebagai penguasa daerah Mushil (Iraq) oleh Ibn Zubair.

Pada saat tahun 85 H, sudaranya yakni Abdurrahman bin al-Asy’at menggencarkan pemberontakan terhadap al-Hajjaj bin Yusuf seorang penguasa bani Umayyah di Hijaz dan Iraq. Semenjak saat itu, anak keturunan al-Asy’at tidak mendapatkan kedudukan dalam pemerintahan bani Umayyah.[4] Keadaan ini berlangsung sampai kekuasaan pemerintah berpindah tangan kepada dinasti Abbasiyah. Ishaq bin ash-Shabah yang merupukan cucu dari Muhammad al-Asy’at diangkat menjadi gubernur di Bashrah, Kufah dari khalifah al-Hadi hingga khalifah Harun ar-Rasyid. Ia dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Yaqub, yang saat ini kita kenal sebagai filosof islam pertama dengan sebutan al-Kindi.

Al-Kindi menghasilkan masa kecilnya di Bashrah, saat dewasa berpindah ke Baghdad dan menetap disana sampai akhir hayatnya. Ia mengalami masa pemerintahan lima khalifah Bani Abbas, yakni al-Amin (809-813 M), al-Makmun (813-833 M), al- Mu’tashim (833-842 M), al-Wasiq (842-847 M) dan al-Mutawakkil (847-861 M).[5] Tidak banyak ditemukan jejak sejarah tentang pendidikannya, namun perpindahannya ke Kufah, Baghdad yang merupakan kota pusat studi bahasa dan teologi serta markasnya para cendekiawan dari berbagai negara, maka tidak heran jika ia menguasai banyak ilmu seperti ilmu astronomi, ilmu ukur, ilmu alam, ilmu astrologi, filsafat, logika, psikologi, politik, kedokteran, kimia, matematika, dan optika.

Karena lingkup pengetahuannya yang luar biasa atau mugkin dikarenakan hal lain, misalnya kesesuaian pandangannya dengan mu’tazilah, khalifah al-Ma’mun mengajaknya bergabung dalam proyek penerjemahan karya-karya ilmuan Yunani.[6] Dikatakan bahwa al-Makmun membayar siapa saja yang sanggup menerjemahkan bubu-buku kedalam bahasa Arab maka bayarannya emas seberat buku yang diterjemahkan. Saat di Baghdad ia banyak bertemu dengan cendekiawan Persia dan Suriah, yang kemudian diduga al-Kindi mendapat bimbingan dari keduanya, dari situlah mereka mampu menguasai bahasa Yunani dan Suryani.[7] Oleh karena itu, maka diterima apa yang disebutkan al-Ahwaniy bahwa al-Kindi satu dari empat penerjemah yang mahir dalam masa gerakan penerjemahan, mereka adalah Hunain bin Ishaq, al- kindi, Sabit bin Qurra dan Umar bin Farkhan at-Thabari. Dikatakan pula, ia juga merupakan sosok yang memiliki cukup harta untuk menggaji para penerjemah naskah- naskah ilmu pengetahuan dan ilmu filsafat yang kemudian dikumpulkan dalam perpustakaan pribadinya, perpustakaan al-Kindiah.[8]

Namun sebagian penulis meragukan keikutsertaan al-Kindi dalam proses penerjemahan, seperti yang dikemukakan oleh Felix Klein Franke, bahwa al-Kindi tidak menguasai bahasa Yunani maupun Suryani.[9] Oleh sebab itu, ia hanya mengadopsi dan atau menggunakan karya terjemahan seperti terjemahan-terjemahan Ibnu Na’imah al-Bithriq dan Eustathius (Asthat).[10] Sedangkan aktivitasnya terfokus pada upaya menyimpulkan pandangan filsafat yang sulit dipahami.[11] Meskipun demikian, al-Kindi adalah orang yang pertama kali mengenalkan karya-karya pertama terjemahan filsafat Yunani ke dunia Arab. Plato dan Aristoteles diantara dua nama yang sering disebut-sebut serta karyanya banyak diterjemahkan dan dikaji oleh al- Kindi. Semangatnya dalam menggunakan terjemahan-terjemahan karya Yunani tersebut seiring dengan keinginannya untuk memperkenalkan filsafat dan Sains Yunani kepada bangsa Arab, sekaligus untuk menentang para teolog (mutakallimun) ortodoks yang menolak pengetahuan asing.[12]

 Al-Kindi juga disebut sebagai filosof Arab, karena ia merupakan satu-satunya filosof yang berdarah Arab asli, hal ini menjadikan ia mendapat penghargaan tinggi dari khalifah al-Mu’tashim (218-223 H/833-838 M) dengan mendapat kepercayaan untuk mendidik anaknya Ahmad. Sampai terdapat ungkapan dari Ibnu Nubatah dalam bukunya Sahrul Uyun, seperti yang dinukil oleh Ahmad Ahmad Fuad al-Ahwani, “Kerajaan al-Mu’tashim diperindah oleh al-Kindi dengan buku-buku yang ditulisnya”. Akan tetapi kedudukan terhormatnya disisi al-Makmun dan al-Mu’tashim tidak menjamin nasibnya selalu bagus.

Ia juga pernah mendapat kecaman saat al-Mutawakkil memegang kendali khalifah dan menjadikan paham ahlussunnah wal jamaah sebagai paham negara, ganti dari mu’tazilah. Hal ini dimanfaatkan beberapa kelompok yang memegang erat paham ini serta menentang filsafat untuk memojokkan al-Kindi. Diantaranya kedua putra Ibnu Syakir, Muhammad dan Ahmad yang mengatakan bahwa diantara mereka yang mempelajari filsafat menjadi kurang hormat terhadap agama.[13] Hal tersebut menjadikan al-Kindi dijatuhi hukuman dera oleh al-Mutawakkil dan perpustakaannya disita dan diambil alih kepemilikannya oleh al Mutawakkil.[14] Namun, tidak lama setelah kejadian itu perpustakaannya dikembalikan kembali.[15] Ada satu kisah menarik dari al-Kindi dalam kepiawaiannya dalam musik. Menurutnya, seni bukan hanya dimiliki manusia tetapi juga hewan. Bila seruling ditiup dengan baik, maka hewan seperti ular dan buaya akan mengikuti irama musik tersebut.[16] Ia juga menambahkan bahwa semestinya permainan musik harus disesuaikan dengan waktu yang sesuai, di pagi hari misalnya musik yang dimainkan supaya membangkitkan kesegaran jiwa untuk mengawali berbuat kebaikan.[17] Dengan seni musik yang ia miliki ia mampu menyembuhkan anak tetangganya yang didiagnosa sakit saraf dan tiba-tiba lumpuh, padahal tidak seorang dokter pun di Baghdad yang mampu menyembuhkannya.[18]

Bersambung…

[1]Abdul Aziz Dahlan, Pemikiran Falsafi dalam Islam, (Padang: IAIN IB Press: 2000), Cet.II, H.43

[2] Para sejarawan membagi suku Arab menjadi tiga kelompok, pertama Arab Ba’idah yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang sudah punah seperti Ad, Tsamud, Thasm, Judais, Imlaq dll, kedua  Arab Aribah yaitu kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya’rib bin Yasyjub bin Qahthan.

[3] Ahmad Fuad al-Ahwani, Filsafat Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), Cet.VIII, H.64

[4] Ahmad Fuad al-Ahwani, Filsafat Islam, H.65

[5] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, (Depok: Raja Grafindo Jaya, 2014),  Cet.VI, H.41

[6] Musa al-Musaqi, Min al-Kindi ila Ibnu Rusyd, (Beirut:Maktabat al-Fikr al-Jami’i, 1977), H.54-55

[7] Ibnu Juljul, Thabaqat al-Athibba wa al-Hukamaa’ dikutip melalui George N. Atiyeh, Al-

Kindi: The Philosopher of The Arab, (Rawaldi: Islamic Research Institute, 1996), H.6

[8] Abdul Aziz Dahlan, Pemikiran Falsafi dalam Islam, H.43

[9] Buku terjemahan dari History of Islamic Philosoophy, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, (Bandung: Mizan Media Utama, 2003) Cet.I, H.207

[10]Asthat/Eustatius menerjemahkan Metaphysics karya Aristoteles; Abd al-Masih Na’imah menerjemahkan penafsiran Porphyry ata Enneads karya Plotinus, atu dikenal dengan Theology karya Aristoteles dan Yahya bin al-Bithriq menerjemahkan De Caelo dan De Anima karya Aristoteles, Timaeus karya Plotinus.

[11]Abdul Aziz Dahlan, Pemikiran Falsafi dalam Islam, H.44

[12] Sayyed Hossein Nasr, Oliver Leamen (Ed), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, (Bandung: Mizan Media Utama, 2003) Cet.I,

[13] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, H.42

[14] Ahmad Fuad al-Ahwani, Filsafat Islam, H.67

[15] M. M  Syarif, (Ed) History of Muslim Philosophy, vol.I. (Wisbaden:Otto Horossowitz, 1963), H.422

[16] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, H.42

[17] Ahmad Fuad al-Ahwani, Filsafat Islam, H.72

[18] M. M Syarif, Alam Pikiran Islam, Peranan Umat Islam dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Terj. Fuad Moh. Fachruddin, (Bandung: Diponegoro, 1979), Cet.II, h.81

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *